Salam Rindu untuk Ayah dan Ibu

Kota ini terlalu bising untuk ku menyendiri, jalanan pun terlalu sesak untuk ku merasa terasing. Bahkan saat malam telah separuh berlalu. Masih saja ada pejalan yang sibuk di tengah gulita, masih saja ada pekerja yang dengan gigih menantang lelah. Sementara aku, sibuk mencari sepetak ruang untuk menyandarkan hati. Ku mintakan sedikit tempat di peraduan bulan, ku mintakan satu bintang untuk menemami sepi ku.

tokyo

 

 

 

 

 

 

 

Malam ini, Hujan yang perlahan membasahi genting rumah ku pun bahkan tak mampu meleburkan sedikit kerinduan ku. Ingin ku berbisik pada awan, tapi ia terlalu kelabu malam ini. Mungkin awan menyimpan kerinduan akan cerah , lebih dari kerinduan ku. Tak ada kah yang bersedia menyampaikan salam rindu ku untuk ayah dan ibu ?? Bahkan angin yang sejak tadi berhembus didepanku pun acuh tak acuh. Ia terlalu sibuk menyebarkan oksigen pada penduduk bumi.

Aku merindukan mu, ayah, ibu

Aku rindu gelak tawa mu yang seketika mampu mencairkan kebekuan hati ku. Aku rindu belaian yang selalu membuat ku nyaman. Aku rindu mengisi hari- hari ku bersama mu, ayah, ibu. Aku rindu saat dulu aku tak perlu memikirkan apapun selain kebersamaan kita. Aku rindu saat dulu kita selalu punya waktu untuk bersama.

Aku merindukan mu ayah, ibu

Detik ini mungkin aku terlalu sibuk dengan mimpiku, mungkin aku terlalu berambisi atas semua harapan akan masa depan. Hingga tinggal sedikit saja waktu yang bisa ku bagi bersama mu. Ini salah siapa ? apakah ini salah ku ? jika pada akhirnya kita tak lagi bebas bersama.

Mungkin tak ada yang patut di persalahkan. Ini hanya masalah waktu. Ini adalah tentang perjuangan untuk masa yang akan datang. Aku hanya ingin menjadi putri kebanggaan mu. Hanya ingin membuat mu tersenyum melihat sukses ku.

Doa-ibu-bapa

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku merindukan mu ayah, ibu

Hingga tiba waktu nya nanti aku akan kembali. Saat aku telah menggenggam mimpi. Saat bukan lagi waktu yang mengendalikan hidup ku. Saat itu lah aku akan memeluk mu erat, melepas ikatan rindu yang telah menjadi simpul erat di hati ku. Insya Allah suatu saat nanti.

Salam rindu ku untuk mu, Ayah, Ibu

Aku yang Mengagumi mu, Ukhti

 

 

 

 

 

 

 

Satu demi satu bait mu ku baca dengan indah, tak ingin melewatkan satu bagian pun dari guratan tinta mu. Entah sejak kapan aku mengikuti setiap jengkal tulisan mu, entah apa yang membuat ku begitu tertarik menjadi pembaca setia pada setiap posting mu…

Ahh,, sepertinya aku mulai mengagumi mu wahai ukhti. Seperti seorang penyair yang mengagumi setiap bait puisi.

Aku.. yang sejak dulu ingin berada di tempat ini, tempat dimana jemari tak lagi ragu meluapkan rasa, tempat dimana untaian kata  bukan lagi tentang merangkai abjad. Akhirnya menemukan setitik keyakinan. Bahwa tak ada yang tak mungkin selagi kita berusaha, bahwa menjadi penulis handal bukan lah mustahil jika kita mau belajar.

Aku memang ingin menulis, menuangkan setiap rasa pada bait kata, menceritakan hati pada lembaran tulisan. Tapi aku bukan pujangga, bukan pula penyair yang dengan ligat mampu merangkai jutaan puisi, aku hanya lah sang pengagum yang ingin menjadi seperti mu, wanita sholehah yang dengan indah menyampaikan pesan mu lewat cerita ringan tapi berkesan. Menceritakan ksah hidup dalam barisan puisi.

Pada akhirnya, bukan hanya mengagumi setiap tulisan mu, bukan hanya tersentuh pada pesan- pesan akhlak mu,tapi lebih jauh lagi aku bahkan ingin menjadi sepertimu wahai ukhti. Meski aku bahkan tak mengenalmu, bahkan tak pernah bertatap dengan mu, tapi setiap kata yang ku baca pada tulisan mu mampu mewakili prasangka ku terhadap mu, bahwa dirimu adalah wanita sholehah yang tak hanya cerdas, tapi juga lembut, perhatian dan insyaallah taat dan istiqomah.

Semoga saja dari setiap yang ku baca, dari setiap cerita mu mampu menggugah rasa ku. Untuk menuliskan setiap apa yang ku alami, untuk menjadi wanita sholehah sepertimu.

Salam dari ku yang mengagumi mu, ukhti..

Sajak Kehidupan

puisi-bahasa-jawa

 

 

 

 

 

 

 

 

Di tempat ini aku berdiri, menatap luas langit,memandang jauh melewati samudera..

ku goreskan titik demi titik tinta dalam asa, entah apa entah mengapa

tatap ku menyuarakan ketiadaan yang hilang di makan rimba

di atas titian berduri ku jejaki bumi tempat bernaung seluruh kehidupan

mungkinkah aku sudah lelah.. atau aku iri pada angin yang selalu bebas

sementara aku hanya bagai burung dalam sangkar, hanya seperti tulisan tanpa makna

 

di tempat ini aku berdiri,,

mencari setitik cahaya dalam siluet kegelapan

mencoba menggenggam waktu yang selama ini justru mengendalikan hidupku..

kemana lagi aku harus pergi, kemana lagi aku harus berjalan

atau kah aku harus tetap disini, sementara senja telah membawa  jutaan kehidupan ke masa depan

 

di tempat ini aku berdiri,,

menyuarakan sajak kehidupan

memberi sedikit arti pada butir keringat  di atas kerja keras

mungkin aku tak seberuntung sang merpati yang mampu terbang bebas

tapi aku hanya harus bersyukur atas teka- teki kehidupan ku

aku hanya harus bersyukur bahwa kenyataan ini telah memberi ku kekuatan  untuk tetap berdiri disini

menatap senja mendengar cerita tentang sajak kehidupan

Senja di Tepi Pantai

gadis-senja

 

 

 

 

 

 

 

 

Senja ini aku kembali duduk sendiri di tepi pantai ….

Ada kerinduan yang mendalam saat ku lihat setiap sisi pantai ini

Sudah lama, sejak terakhir kali aku ada ditempat ini bersama mu….

Saat terakhir kali kau berjanji untuk tak meninggalkan ku sendiri..

Saat aku merasa begitu nayaman bersandar di bahumu..

 

Seketika sapaan sang bayu menyadarkanku..

Ahh, ini hanya kenangan ,,

Semua telah berlalu di hempas waktu ..

Tapi aku masih saja mengingatmu..

Aku masih tak mampu menghapus seluruh ingatan ku tentang mu

Ingatan tentang kita,

 

Perlahan Aku mulai beranjak, aku hanya tak ingin larut dalam ingatan ku tentang kenangan ini.

aku hanya berusaha melupakan mu. Aku hanya berusaha berdiri tanpamu,,,

karena aku telah memilih jalan ini, untuk membiarkan mu pergi

untuk tak menanti mu lagi……

 

*goresan masa lalu

Menjelma Angin

angin1

 

 

 

 

 

 

 

 

Kaki ku mungkin telah terlalu lelah untuk melangkah, dan tubuh ku telah terlalu lemah untuk berdiri di tengah terpaan badai.

Tak mampu ku topang diri ini, tapi pun tak mampu tuk menjauh pergi.

Andai diri ini angin, aku tak perlu menjadi selayak pohon yang rentan.

Andai diri ini angin, aku bahkan bisa bersahabat dengan badai.

Aku ingin menjelma angin, mengembara pada luasnya alam, menikmati setiap butir hujan,

menyisir tepian pantai bersama bulir pasir sisa hempasan ombak. Menebarkan mantera kesejukan pada setiap petak waktu.

Aku ingin menjelma angin.

Menyapa seluruh sisi bumi, agar aku tau sekelebat tentang kehidupan di luar sana yang tak pernah mampu ku jangkau hanya lewat pandang. Meniupkan kabar berita ke setiap sudut atmosfer.

Karena hanya dengan menjelma angin, aku dapat mengayuhkan langkah tanpa henti,menjangkau luas tanpa batas.

Karena hanya dengan menjelma angin, aku mampu menopang diri tanpa perlu berlari saat badai mengamuk.

Karena saat aku menjelma angin, aku adalah sahabat badai

Menanti mu

tetap menantimu

 

 

 

 

 

 

 

 

disepanjang jalan yang kulalui,,aku tak lagi menemukan bayangmu,,

ku langkahkan kaki tuk mencoba mencarimu,namun belum sempat ku rengkuh bayangmu

kau bahkan telah berlari meninggalkan senyum yang belum sempat ku nikmati…

aku tak pernah tau mengapa begitu cepat kau kau berlalu,,

dan membawa senyum itu pergi…

aku tak pernah mengerti,mengapa kau pergi tanpa sepatah katapun,,,

kemana aku harus mencarimu dalam remang yang membawa langkahmu…

kemana aku mengadu karena kau tak meninggalkan jejak..

haruskah aku berteriak agar alam semesta membantuku tk mencari langkahmu,,,

 

dinginnya malam ini tak sedingin hatiku saat mengingat acuhnya dirimu memandangku..

dengan apa harus ku buktikan bahwa aku menyayang mu,,

dengan apa harus ku tunjukkan bahwa aku mengasihimu…

 

belum sempat ku ucap kataku,,bayangmu pun bahkan tak nampak lagi

kemana pergimu,,kemana langkahmu..

 

ku titipkan salam rinduku untuk hatimu, jika ia masih merasakan cintaku,,

 

nuansa hatiku kinii tak menentu, karena kay tak pernah menyatakan cinta dengan sempurna,,

haruskah ku pejamkan mata,,sementara hatiku selalu menggemakan namamu,,

 

aku ragu akan dirimu…aku resah karena kasihmu tak nampak..karena sayangmu samar.

karena katamu yang tak pernah mampu ku artikan,,

haruskah aku menyapa untk mengetahui kepastiannya..

 

mengapa asa yang dulu kau titipkan pada ku

tiba2 samar dan kaku ,,

mengapa indah senyummu kini hambar terlihat oleh q,,

 

hari demi hari telah berlalu,,

namun aku masih setia menantimu,,

menanti kau kembali dalam kekosongan hati ini,,

karena aku hanya sebuah raga yang kesepian dalam hayal..

karena aku adalah raga yang sedang meratap dalam angan,,

 

karena itu aku masih menantimu di ujung segala resahku,,

menanti mu membawa asa dalam jiwamu untuk ku

menantimu membawa cinta yang dulu pernah pudar,,

membalut luka yang telah meradang di hatiku

Rindu Kampung Halaman

kampung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sudah hampir 5 tahun sejak pertama kali aku memijakkan kaki di negeri minang ini, begitu banyak hal baru yang aku dapatkan disini, begitu banyak pula yang aku tinggalkan di kampung halaman ku.

Seiring musim berganti, terangkai tanya tentang kabar mereka, terangkai tanya tentang kampung halaman ku, masih kah ia asri ? masihkah ia hijau seperti saat aku pergi ? lalu bagaimana dengan sanak saudaraku ?

Sejenak terbersit keinginan untuk kembali mengisi hari- hari ku disana dan meninggalkan semua yang kumiliki disini, tapi seperti perahu terhempas ombak, keinginan itu tiba – tiba hilang. Entah dari mana datangnya ingatan masa lalu ini tiba- tiba memenuhi ruang otak ku dan memaksaku untuk menenggelamkan keinginanku untuk kembali.

Dulu.. ada genangan air mata yang hampir setiap hari membanjiri kelopak mataku, ada luka yang bertubi- tubi mereka hujam tepat di jantung hatiku, menyisakan kepedihan bukan hanya padaku tapi juga orang tua ku. Jalan yang kami lewati seakan selalu salah dan selalu saja terjatuh. Kami terlalu rapuh untuk bangkit, tapi tak satupun peduli. Sahabat hanya nama, sanak saudara bahkan hanya melihat keterpurukan kami dari kejauhan.. kemana kami akan mengadu, kemana kami meminta bantuan.. hanya Allah tempat kami bersandar atas segala kepedihan..

Hampir putus asa diri ini tenggelam dalam lautan masalah, hampir bercerai berai kami di atas penderitaan yang seakan tak berujung. Sahabat ku, sanak saudara ku, bahkan cinta ku pun tak lagi peduli. Sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk pergi meningggalkan kampung halaman ku, menjauh dari tanah kelahiranku.

Begitu banyak luka disini, begitu banyak air mata di keluarga ku ini, tak apa jika hanya aku yang tersakiti. Tapi tak rela hati ini melihat ayah, ibu bahkan adik- adik ku juga tersakiti oleh keadaan ini.

Huufftt,,,, aku menghela nafas panjang. Bersyukur karena itu hanya kenangan masa lalu. Bersyukur karena kami telah melewati cobaan itu dan menjadi lebih tegar, karena Allah telah menganugerahkan kebahagiaan hari ini.

Aku rindu kampung halamanku..

Tapi entah mengapa hati ini masih menyimpan semua kenangan pahit masa lalu,

masih mengingat semua rasa sakit yang pernah mereka hujamkan, haruskah aku menbenci ? sementara Allah saja mengampuni dosa hamba – Nya..

Atau haruskah aku kembali dan berpura- pura lupa dengan rasa sakit ini..

Sudah terlalu lama, sudah seharusnya ku hapus jejak masa laluku. Agar rindu pada kampung halaman ku bukan sekedar bualan hati, agar aku bisa kembali dengan hati lapang tanpa mengungkit sakit ini. Semoga Allah menghapus segala dendam di hati ku. Semoga benci ini hanya kebencian di masa lalu,, karena sekali lagi , aku rindu kampung halaman ku…