Tentang Meminta Maaf dan Memaafkan

Ada saat nya kita merasa lelah dengan semua aktivitas kita.Ada masa nya kita juga merasa bosan dan jenuh dengan orang- orang di sekeliling kita.Terutama dengan makhluk- makhluk yang hobi nya mencela kita, mencari- cari kesalahan kita, bahkan berusaha menjatuhkan kita.

Aku memang bukan orang yang sempurna yang tak pernah berbuat salah, tentu saja, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Aku hanya berusaha menjalani hidup apa ada nya, mencoba menjadi seseorang yang baik untuk orang- orang di sekeliling ku, keluarga ku, sahabat ku juga rekan-rekan kerja ku. Tapi kembali lagi, I’m not a perfect human.

Tentu saja aku pernah berbuat salah, tentu saja aku pernah membuat orang- orang di sekeliling ku mungkin tersakiti. dan sebisa mungkin aku segera minta maaf saat aku menyadari kesalahan ku.

minta maaf

 

 

 

 

 

 

Tapi bagaimana saat orang lain yang menyakiti ku. Sudah pasti aku akan merasa sakit hati, lalu bagaimana saat orang yang menyakiti ku dengan tulus meminta maaf.

Ternyata tak seketika itu aku bisa memaafkan. Ternyata memaafkan itu sulit. Aku pikir meminta maaf setelah aku menyakiti seseorang itu sudah berat rasanya, tapi ternyata memaafkan orang yang telah menyakiti aku itu lebih berat buat aku.

Bicara tentang meminta maaf dan memaafkan, tiba- tiba aku teringat cerita masa lalu ku, saat seeorang yang aku cintai menghianati kepercayaan ku dan memilih untuk meninggalkan aku, sesaat setelah kami bahkan sepakat untuk bertunangan. Setelah dia bahkan telah berbicara dengan kedua orang tua ku tentang rencana pertunangan kami. Seperti tersambar petir di siang bolong rasanya hati ini mendengar keputusan sepihak dari nya. Aku tak percaya, aku berharap ini mimpi. Tapi pelukan mama menyentakkan ku, ini bukan mimpi. Benar- benar nyata. Dimana hati mu dimana perasaan mu, tidak kah kau berpikir sedikit tentang hatiku.

Air mata ini tak berhenti menetes, sakit ini benar- benar menghujam jantung hati ku, berhari- hari aku meratap, merenung, menyesali keadaan. Aku benar- benar terpuruk dalam jurang kesakitan ini, hari hari ku kacau, emosi ku meningkat, beruntung ayah dan ibu ku selalu ada di samping ku, selalu berusaha menenangkan hati ku dengan cinta nya. Meski perlahan aku mulai bangkit, tapi sakit ini sudah terlanjur meradang di hati ku.

images

 

 

 

 

 

Dia, kemana dia, dia bahkan menghilang setelah semua ini. Belum sempat ku rangkai sejuta pertanyaan tentang nya, tiba- tiba hanphone ku berbunyi, ternyata dia. Dengan nada yang sangat lambat, seolah dia takut untuk bicara, suara nya melemah, aku bahkan tak tau apakah sekarang dia pun terpuruk dengan keadaan ini. Dia meminta maaf atas semua ini, dia meminta ku kembali, dia menjelaskan semua alasan mengapa dia akhir nya meninggalkan ku. Karena orang tua ny ternyata punya pilihan lain untuk nya. Air mata ku menitik, aku menyayangi nya, aku mencintai nya, tapi entah kenapa hati kecil ku tak lagi menerima nya. Terlalu sakit kah hati ini, bahkan cinta yang telah bersemayam selama dua tahun di hati ini, tiba- tiba sempurna terbungkus rasa sakit, berubah seketika menjadi kebencian. Aku bahkan seolah tak ingin lagi mengenal nya. Aku tak menjawab apapun saat kedua kali nya dia berkata ‘maafkan aku’.

Dengan masih tak menjawab apa pun, aku segera mematikan telpon. Aku bahkan tak sanggup menahan kekecewaan yang merajam hati ku menjadi kepingan2 tak tertata. Aku tak sanggup lagi mendengar suara iba nya. Untuk kesekian kali nya butir air mata ini membahasi pipi ku.

Hari berlalu, minggu berganti bulan. Bahkan tahun pun telah berganti. Tapi sampai hari ini. Mengenang cerita pedih cintaku bertahun lalu ini tetap membuat ku tak mampu menahan sakit, masih selalu ada air mata setiap kali aku mengingat nya.

Dan sampai hari ini, aku tak pernah yakin apakah hati kecil ku benar telah memaafkan nya, setelah permintaaan maaf nya berulang kali bertahun lalu. Meski bibir ku berkata aku memaaf kan nya, tapi ingatan ku, nurani ku tak bisa semudah itu melupakan sakit nya. Ternyata benar apa yang pernah ku dengar. Bahwa memaafkan itu mungkin mudah, yang sulit itu melupakan sakit nya.

Keadaan ku saat itu benar- benar membuat ku egois, aku hanya peduli tentang sakit ku, hanya peduli tentang kecewa yang menghujam jantungku. Berharap kata maaf dari nya, meski hanya memaafkan tanpa pernah melupakan rasa sakit ku. Entah untuk tujuan apa aku selalu ingin dia minta maaf, tanpa pernah aku berrpikir. Aku bahkan tak pernah meminta maaf pada nya. Atas kebencian ku pada nya, atas semua kemarahan ku padanya. karena hari itu aku hanya berpikir, bahwa hanya aku yang tersakiti disini. Apakah seharus nya aku juga meminta maaf, karena aku bahkan tak memberikan dia kesempatan untuk kembali dan memperbaiki kesalahan nya hari itu. Ah… sudah lah. Ini hanya tentang meminta maaf dan bagaimana sulitnya memaafkan.

Mungkin jika suatu hari aku bertemu dengan nya aku akan meminta maaf.

 

Hujan Sepagi Ini

hujan2

 

 

 

 

 

 

 

Mentari belum sempat menampakkan binar nya

Saat deras hujan menyeringai menyapa bumi
Embun pun belum lagi sempat membasahi padang ilalang
Hujan sepagi ini..
bahkan tak membiarkan burung2 kecil itu bernyanyi di atas dahan
Mungkin mereka terlalu takut basah,,
Tak seperti katak yang selalu riang saat hujan turun..
Hujan sepagi ini..
Membuat ku terpaksa diam menahan rindu pada mentari
Memaksa ku tinggal bersama kenangan tentang cerah nya alam
Bukan aku menyalahkan hujan
Hanya saja hujan ini menyiksa ku
Menenggelamkan ku dalam rasa bersalah pada setangkai melati
Karena aku membiarkan ia tertungkup lemas di terpa hujan
Hujan sepagi ini..
Membuat ku tertegun begitu lama di balik jendela kaca
Menahan takut hamparan suara petir
Harus kah aku hanya diam disini menunggu hujan reda
Sementara hati ku tak ingin lebih lama tinggal disini
Atau haruskah aku berlari di bawah hujan
Hingga ku temukan tempat dimana hujan sepagi ini telah berganti dengan indah nya pelangi.
Dan aku kembali menikmati kebersamaan ku di setiap helai daun di cerah nya alam

Kota Parkir

pantai-padang-008
Langit sore mulai terlihat merona..
mentari tak lagi memancarkan terik nya yang begitu menyengat
hanya cahaya merona yang membuat senja ini begitu hangat
pantai ini tak pernah sepi pengunjung..
entah dari mana,entah mengapa, entah apa yang membuat mereka begitu tertarik dengan tempat ini.. seperti tak pernah bosan menikmati aroma pasir yang terhempas ombak..
aku berhenti sejenak dari perjalanan ku…
ku tepikan motor ku di pinggir pantai ini..
baru semenit rasanya aku berhenti disini, aku bahkan belum sempat menikmati indah nya senja di pantai ini, tiba- tiba seorang anak remaja menghampiri ku.. kak, parkir nya kak, dengan nada bicara yang sedikit memaksa
ouwh,, pake parkir juga, sebentar aja koq”, ucap ku dengan nada sedikit jutek, karena aku memang bukan orang yang bersahabat dengan urusan perparkiran, apalagi aku hanya berhenti sejenak disini,,
aghh,,, tapi ya sudah lah, aku masih ingin menikmati senja di pantai ini,
ku keluarkan uang selembar ribuan dari dompetku dan memberikan nya pada remaja itu..
“seribu lagi kak” jawab remaja itu..
“loh,, bukan biasa nya seribu ya”, jawab ku dengan nada yang masih jutek
“sekarang dua ribu kak” jawab nya..
Hmmm… aku menghela nafas, dan dengan terpaksa ku keluarkan lagi selembar ribuan ku..
Entah kenapa selalu saja urusan parkir yang membuat ku malas untuk berada di tempat ini
Padahal seharus nya tempat ini bisa dinikmati siapa saja, tanpa harus merasa terganggu dengan urusan parkir tak jelas itu,,
Ahh,, sudah lah,, kali ini aku mengalah pada tukang parkir yang tak jelas itu.. aku terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan ku..
Sekitar lima belas menit aku menikmati pemandangan ini, tiba- tiba seorang anak remaja lain menghampiri ku,, “kak, parkir nya kak” dengan nada yang lebih ramah di banding remaja sebelum nya,,
Apa ??? mataku melirik tak suka memandang nya,,”parkir lagi”, jawab ku agak sewot…
“tadi udah bayar parkir sekarang harus bayar lagi” ? tanya ku kesal
“iya kak, kalo berhenti disini emang bayar parkir kak”, jawab nya masih dengan nada ramah…
“iya, tapi tadi kakak udah bayar parkir, lagian kan Cuma sebentar”, aku mulai kesal..
Dengan muka masam dan pandangan kesal ku starter motor ku, tak ku pedulikan remaja tadi, ku tinggalkan tepi pantai ini, sepanjang jalan aku hanya mengomel, aku masih kesal dengan parkir- parkir tak jelas itu,,
Beberapa menit setelah aku meninggalkan pantai itu, ku dengar adzan maghrib berkumandang..
Aku mengalihkan pandangan ku dari keramaian jalan..
Mencari masjid untuk menunaikan kewajiban ku..
Setelah ku tunaikan kewajiban ku, aku bergegas melanjutkan perjalanan ku, ingin segera melepas lelah di kamar tercinta ku..
Ku starter motorku, sebelum ku lihat seorang anak menengadahkan tangan nya padaku
“parkir nya kak”, ucap anak itu
Kali ini aku enggan berkomentar, ku berikan selembar dua ribuan, dan segera berlalu meninggalkan halaman masjid itu.
Aku bergumam dalam hati, “parkir lagi, parkir lagi, dimana- mana kena ongkos parkir, bahkan meningggalkan motor di halaman masjid pun kena ongkos parkir. Tak masalah jika aku meninggalkan motor ku di basemen mall, di halaman restoran atau di pusat perbelanjaan.
Apa sebenar nya yang terjadi disini, apa setiap sudut kota ini memang di wajibkan untuk membayar parkir, bagaimana bisa tukang2 parkir gadungan itu bisa seenak nya meminta ongkos parkir,
Mungkin slogan kota ini “dimana kamu berhenti disitu kamu harus membayar parkir”.
Sepertinya kota ini cocok untuk di juluki “Kota Parkir”.
Aarrgghh,, aku semakin tak mengerti,, sepertinya parkir sudah membudaya di kota ini,, -_-

Ikhlas

Terkadang memaksa hati untuk melakukan apa yang tidak kita ingnkan itu emang menyakitkan. Tapi saat hidup tak memberikan kita pilihan, kita bahkan tak bisa berbuat apa2, hanya bisa menerima. Seperti saat kita harus memaksa hati untuk melupakan seseorang yang kita sayang. Tak mudah memang, atau seperti saat kita harus memaksa hati menyembunyikan rasa sayang kita pada seseorang.

Memaksa hati itu memang menyakitkan, terlebih saat kita harus memaksa hati untu menerima sebuah kegagalan. Semakin kita mencoba memaksa hati kita untuk menerima, semakin sakit rasa nya hati ini.

Seperti apa yang aku rasakan, berulang kali aku memaksa hati untuk menerima kegagalan ku hari ini. Tapi semakin ku paksa hati ku untuk menerima, semakin sakit rasanya, semakin sesak hati ku dengan kekecewaan, semakin mengecil harapan ku untuk bangkit. Aku terpuruk dalam kegagalan ku hari ini. Aku berpikir sejenak tentang kegagalanku hari ini, dimana kesalahan ku, dimana kekurangan ku, sampai aku tak berhasil. Aku yakin bahwa aku sudah melakukan yang terbaik dan aku yakin aku pasti berhasil. Tapi kenyataan tak semulus yang aku harapkan. Hasil yang kuterima justru mengecewakan.

“sudah lah ikhlas kan saja, legowo, ambil hikmah nya saja”, ucap salah seorang sahabat ku mencoba menenangkan ku. Aku terdiam sejenak, ku tatap luas nya langit, ku pandang hamparan sawah yang menghijau. Ada udara yang begitu sejuk yang seketika mengisi ruang di paru- paru ku. Aku terus berjalan, sementara sahabat ku hanya membiar kan ku berlalu sendiri. Hembusan demi hembusan nafas yang ku hirup dari udara segar ini perlahan menyadarkan ku. Betapa aku telah mengingkari nimat Nya, betapa aku telah tak bersyukur atas apa yang ku miliki dan yang ku dapatkan.

rumput-embun-pagi

 

 

 

 

 

 

 

Ku lihat rerumputan hijau di sekeliling ku, seolah mereka sedang berkata pada ku, “syukuri saja hidup mu, syukuri apa yang kamu dapatkan, ikhlaskan saja apa yang tak bisa kamu dapatkan, masih lebih banyak nikmat yang kamu rasakan di banding hanya satu kegagalan”.

“Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 17)

Ahhh… ternyata aku salah, salah telah memaksa hati untuk menerima kegagalan. Keindahan alam ini, hembusan nafas ini telah menyadarkan ku. Bahwa telah begitu banyak nikmat yang telah aku terima. Bahwa tak seharus nya aku terpuruk hanya karena satu kegagalan. Ikhlas, aku hanya perlu ikhlas, menerima tapi bukan dengan memaksa hati. Seperti rumput yang tak pernah mengeluh meski keberadaaan nya untuk di injak- injak. Seperti air yang tetap mengalir meski terhalang bebatuan.

Akhirnya aku memetik pelajaran dari kegagalan ku hari ini, bahwa aku harus tetap bersyukur apapun yang aku dapat. Dan aku harus belajar ikhlas atas apa yang tak bisa aaku dapatkan.

Semoga kegagalan ini menjadi pelajaran bagi ku, dan semoga keikhlasan ini menjadi penguat hati ku.

Salam Rindu untuk Ayah dan Ibu

Kota ini terlalu bising untuk ku menyendiri, jalanan pun terlalu sesak untuk ku merasa terasing. Bahkan saat malam telah separuh berlalu. Masih saja ada pejalan yang sibuk di tengah gulita, masih saja ada pekerja yang dengan gigih menantang lelah. Sementara aku, sibuk mencari sepetak ruang untuk menyandarkan hati. Ku mintakan sedikit tempat di peraduan bulan, ku mintakan satu bintang untuk menemami sepi ku.

tokyo

 

 

 

 

 

 

 

Malam ini, Hujan yang perlahan membasahi genting rumah ku pun bahkan tak mampu meleburkan sedikit kerinduan ku. Ingin ku berbisik pada awan, tapi ia terlalu kelabu malam ini. Mungkin awan menyimpan kerinduan akan cerah , lebih dari kerinduan ku. Tak ada kah yang bersedia menyampaikan salam rindu ku untuk ayah dan ibu ?? Bahkan angin yang sejak tadi berhembus didepanku pun acuh tak acuh. Ia terlalu sibuk menyebarkan oksigen pada penduduk bumi.

Aku merindukan mu, ayah, ibu

Aku rindu gelak tawa mu yang seketika mampu mencairkan kebekuan hati ku. Aku rindu belaian yang selalu membuat ku nyaman. Aku rindu mengisi hari- hari ku bersama mu, ayah, ibu. Aku rindu saat dulu aku tak perlu memikirkan apapun selain kebersamaan kita. Aku rindu saat dulu kita selalu punya waktu untuk bersama.

Aku merindukan mu ayah, ibu

Detik ini mungkin aku terlalu sibuk dengan mimpiku, mungkin aku terlalu berambisi atas semua harapan akan masa depan. Hingga tinggal sedikit saja waktu yang bisa ku bagi bersama mu. Ini salah siapa ? apakah ini salah ku ? jika pada akhirnya kita tak lagi bebas bersama.

Mungkin tak ada yang patut di persalahkan. Ini hanya masalah waktu. Ini adalah tentang perjuangan untuk masa yang akan datang. Aku hanya ingin menjadi putri kebanggaan mu. Hanya ingin membuat mu tersenyum melihat sukses ku.

Doa-ibu-bapa

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku merindukan mu ayah, ibu

Hingga tiba waktu nya nanti aku akan kembali. Saat aku telah menggenggam mimpi. Saat bukan lagi waktu yang mengendalikan hidup ku. Saat itu lah aku akan memeluk mu erat, melepas ikatan rindu yang telah menjadi simpul erat di hati ku. Insya Allah suatu saat nanti.

Salam rindu ku untuk mu, Ayah, Ibu

Aku yang Mengagumi mu, Ukhti

 

 

 

 

 

 

 

Satu demi satu bait mu ku baca dengan indah, tak ingin melewatkan satu bagian pun dari guratan tinta mu. Entah sejak kapan aku mengikuti setiap jengkal tulisan mu, entah apa yang membuat ku begitu tertarik menjadi pembaca setia pada setiap posting mu…

Ahh,, sepertinya aku mulai mengagumi mu wahai ukhti. Seperti seorang penyair yang mengagumi setiap bait puisi.

Aku.. yang sejak dulu ingin berada di tempat ini, tempat dimana jemari tak lagi ragu meluapkan rasa, tempat dimana untaian kata  bukan lagi tentang merangkai abjad. Akhirnya menemukan setitik keyakinan. Bahwa tak ada yang tak mungkin selagi kita berusaha, bahwa menjadi penulis handal bukan lah mustahil jika kita mau belajar.

Aku memang ingin menulis, menuangkan setiap rasa pada bait kata, menceritakan hati pada lembaran tulisan. Tapi aku bukan pujangga, bukan pula penyair yang dengan ligat mampu merangkai jutaan puisi, aku hanya lah sang pengagum yang ingin menjadi seperti mu, wanita sholehah yang dengan indah menyampaikan pesan mu lewat cerita ringan tapi berkesan. Menceritakan ksah hidup dalam barisan puisi.

Pada akhirnya, bukan hanya mengagumi setiap tulisan mu, bukan hanya tersentuh pada pesan- pesan akhlak mu,tapi lebih jauh lagi aku bahkan ingin menjadi sepertimu wahai ukhti. Meski aku bahkan tak mengenalmu, bahkan tak pernah bertatap dengan mu, tapi setiap kata yang ku baca pada tulisan mu mampu mewakili prasangka ku terhadap mu, bahwa dirimu adalah wanita sholehah yang tak hanya cerdas, tapi juga lembut, perhatian dan insyaallah taat dan istiqomah.

Semoga saja dari setiap yang ku baca, dari setiap cerita mu mampu menggugah rasa ku. Untuk menuliskan setiap apa yang ku alami, untuk menjadi wanita sholehah sepertimu.

Salam dari ku yang mengagumi mu, ukhti..

Sajak Kehidupan

puisi-bahasa-jawa

 

 

 

 

 

 

 

 

Di tempat ini aku berdiri, menatap luas langit,memandang jauh melewati samudera..

ku goreskan titik demi titik tinta dalam asa, entah apa entah mengapa

tatap ku menyuarakan ketiadaan yang hilang di makan rimba

di atas titian berduri ku jejaki bumi tempat bernaung seluruh kehidupan

mungkinkah aku sudah lelah.. atau aku iri pada angin yang selalu bebas

sementara aku hanya bagai burung dalam sangkar, hanya seperti tulisan tanpa makna

 

di tempat ini aku berdiri,,

mencari setitik cahaya dalam siluet kegelapan

mencoba menggenggam waktu yang selama ini justru mengendalikan hidupku..

kemana lagi aku harus pergi, kemana lagi aku harus berjalan

atau kah aku harus tetap disini, sementara senja telah membawa  jutaan kehidupan ke masa depan

 

di tempat ini aku berdiri,,

menyuarakan sajak kehidupan

memberi sedikit arti pada butir keringat  di atas kerja keras

mungkin aku tak seberuntung sang merpati yang mampu terbang bebas

tapi aku hanya harus bersyukur atas teka- teki kehidupan ku

aku hanya harus bersyukur bahwa kenyataan ini telah memberi ku kekuatan  untuk tetap berdiri disini

menatap senja mendengar cerita tentang sajak kehidupan