Masih Memendam Rasa

blogger-image--2043657223

 

 

 

 

 

Masih kusimpan sepenggal rasa di ujung senja
untuk mu yang hanya mampu kulihat dibalik rona jingga
masih kupendam rindu ini
yang seolah tak pernah padam dilalap bara
hatiku masih enggan berpaling
bahkan saat lentera tak lagi menampakkan raut mu

bukan kah aku terlalu mencintaimu

melihatmu, terkadang begitu menyakitkan
berulang kali harus kusembunyikan semburat kecemburuan
aku ingin bicara, ingin ku ungkap rasaku
tapi tak pernah bisa

saat sekelebat angin berbaur pada temaram bulan
saat lampu jalanan tak lagi terang
aku masih disini
menintal resahku, samar menafsirkan haitmu

memendam rasa ini begitu menyakitkan
hingga denyutku tak lagi berirama
karena sepotong hatiku telah hanyut dalam muara asa mu

biar saja ku psimpan rindu ini
biar saja ku pendam rasa ini
bukan kah aku terlalu mencintaimu
karena menyerah pun aku bahkan tak mampu

Serpihan Rindu Buat Mu, Sahabat

sahabat

 

 

 

 

 

 

Aku tak mampu mengelak dari rasaku
saat ku sadar, ada bgian yang hilang dari diriku
Saat aku mulai merasa kehilangan mu,
Saat perlahan kau mulai menjauh

Aku merasa hilang
Benar- benar kehilangan
Sebab kita tak saling menyapa
Aku tak bisa kembali ke masa itu
Masa dimana kita menapaki jalan bersama
Menyemai kebersamaan di setiap petak waktu

Masih kah aku sahabat mu ?
Masih kah kita bisa bersama ?

Ku tuang kan serpihan rindu di hadapan mu,
Apa kau melihat nya ?
Apa kau merasakan nya ?

Aku merindukan mu
Rindu saat kita masih bisa bersama
bukan seperti hari ini
Saat tawa hanya tinggal sebongkah kediaman
Saat canda hanya menjadi kekakuan

Apakah aku bersalah pada mu,
Apakah aku menyakiti hati mu
Hingga kau bahkan enggan menyapa ku
Meski nyata kau melihat ku

Bicaralah pada ku
Jangan hanya diam dan berlalu
Bicaralah pada ku
Karena serpihan rindu ini semakin menyesak di rasa ku

Aku hanya ingin kita bersama seperti dulu lagi
Menikmati potret waktu bersama mu
Menuangkan setiap lengkingan rasa pada berlalu nya senja

Aku hanya ingin kita bersama seperti dulu lagi
dan sampai hari ini
Aku masih menyimpan serpihan rindu di setiap sudut hati ku
Menunggu mu bicara
Menunggu mu kembali pada kebersamaan masa itu

*dari ku yang merindukan mu, sahabat

Lelaki Berwajah Dingin

Siang itu, di antara kerumunan mahasiswa yang memulai hari pertama kuliah nya

Aku menemukan sosok mu,

Di antara lelaki- lelaki dengan gaya sok keren itu

Aku justru memperhatikan sosok mu

Sosok lelaki yang bahkan tak bisa dibilang keren

Sosok yang kata orang “selengekan”

Tentu saja dengan penampilan dan gaya rambut ala preman

Kau bahkan tak menghiraukan orang- orang di sekitar mu

Kau bahkan Tak terlihat tertarik sedikit pun untuk berbaur dengan mereka, pun dengan ku

 

Siang itu, aku bahkan memperhatikan mu

Melihat mu dalam- dalam dari kejauhan di antara bejibun mahasiswa itu

Bukan karena tiba- tiba aku tertarik padamu

Yang orang bilang, cinta pada pandangan pertama

Tentu saja tidak. Aku bahkan merasa aneh melihat orang seperti mu

Saat mereka mahasiswa baru sibuk mencari teman baru

Sibuk berkenalan sana sini

Tapi kau, dengan gaya mu yang terlihat dingin

Kau berjalan acuh tak acuh melewati barisan keributan di kampus itu

Seolah di kampus ini hanya ada diri mu

 

Meski awal nya ku pikir, mungkin kau adalah senior atau bahkan alumni kampus itu

Yang sengaja mengunjungi kampus di hari pertama kuliah

Atau sekedar ingin melihat mahasiswa baru

Karena saat aku melihat mu siang itu

Raut mu memang seperti seorang senior

Tapi aku salah, ternyata kau juga mahasiswa baru kampus itu, sama seperti mereka

 

Berawal dari pertemuan ku dengan mu di siang itu

Aku hanya ingin mengenal mu

Ingin berteman dengan mu seperti juga aku berteman dengan mereka

Meski ku pikir mungkin akan sulit berteman dengan orang seperti mu

Karena kau terlihat begitu dingin dengan sikap mu

 

Tapi ternyata tak seburuk yang aku kira

Ku pikir kau hanya tak mudah berbaur dengan tempat dan orang- orang baru

Sampai kau benar- benar mengenal mereka

 

Sampai hari ini, setelah aku diam- diam memperhatikan mu

Setelah aku mencoba mengerti sikap dingin mu itu

Setelah kita telah saling bicara

Aku sadar, Aku bahkan menyukai mu

Entah sebagai teman atau apa

Meski kini aku tak lagi menemukan mu

Tapi hari ini, aku merindukan mu

sosok lelaki berwajah dingin

yang ku temui siang itu

Hujan Sepagi Ini

hujan2

 

 

 

 

 

 

 

Mentari belum sempat menampakkan binar nya

Saat deras hujan menyeringai menyapa bumi
Embun pun belum lagi sempat membasahi padang ilalang
Hujan sepagi ini..
bahkan tak membiarkan burung2 kecil itu bernyanyi di atas dahan
Mungkin mereka terlalu takut basah,,
Tak seperti katak yang selalu riang saat hujan turun..
Hujan sepagi ini..
Membuat ku terpaksa diam menahan rindu pada mentari
Memaksa ku tinggal bersama kenangan tentang cerah nya alam
Bukan aku menyalahkan hujan
Hanya saja hujan ini menyiksa ku
Menenggelamkan ku dalam rasa bersalah pada setangkai melati
Karena aku membiarkan ia tertungkup lemas di terpa hujan
Hujan sepagi ini..
Membuat ku tertegun begitu lama di balik jendela kaca
Menahan takut hamparan suara petir
Harus kah aku hanya diam disini menunggu hujan reda
Sementara hati ku tak ingin lebih lama tinggal disini
Atau haruskah aku berlari di bawah hujan
Hingga ku temukan tempat dimana hujan sepagi ini telah berganti dengan indah nya pelangi.
Dan aku kembali menikmati kebersamaan ku di setiap helai daun di cerah nya alam

Kota Parkir

pantai-padang-008
Langit sore mulai terlihat merona..
mentari tak lagi memancarkan terik nya yang begitu menyengat
hanya cahaya merona yang membuat senja ini begitu hangat
pantai ini tak pernah sepi pengunjung..
entah dari mana,entah mengapa, entah apa yang membuat mereka begitu tertarik dengan tempat ini.. seperti tak pernah bosan menikmati aroma pasir yang terhempas ombak..
aku berhenti sejenak dari perjalanan ku…
ku tepikan motor ku di pinggir pantai ini..
baru semenit rasanya aku berhenti disini, aku bahkan belum sempat menikmati indah nya senja di pantai ini, tiba- tiba seorang anak remaja menghampiri ku.. kak, parkir nya kak, dengan nada bicara yang sedikit memaksa
ouwh,, pake parkir juga, sebentar aja koq”, ucap ku dengan nada sedikit jutek, karena aku memang bukan orang yang bersahabat dengan urusan perparkiran, apalagi aku hanya berhenti sejenak disini,,
aghh,,, tapi ya sudah lah, aku masih ingin menikmati senja di pantai ini,
ku keluarkan uang selembar ribuan dari dompetku dan memberikan nya pada remaja itu..
“seribu lagi kak” jawab remaja itu..
“loh,, bukan biasa nya seribu ya”, jawab ku dengan nada yang masih jutek
“sekarang dua ribu kak” jawab nya..
Hmmm… aku menghela nafas, dan dengan terpaksa ku keluarkan lagi selembar ribuan ku..
Entah kenapa selalu saja urusan parkir yang membuat ku malas untuk berada di tempat ini
Padahal seharus nya tempat ini bisa dinikmati siapa saja, tanpa harus merasa terganggu dengan urusan parkir tak jelas itu,,
Ahh,, sudah lah,, kali ini aku mengalah pada tukang parkir yang tak jelas itu.. aku terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan ku..
Sekitar lima belas menit aku menikmati pemandangan ini, tiba- tiba seorang anak remaja lain menghampiri ku,, “kak, parkir nya kak” dengan nada yang lebih ramah di banding remaja sebelum nya,,
Apa ??? mataku melirik tak suka memandang nya,,”parkir lagi”, jawab ku agak sewot…
“tadi udah bayar parkir sekarang harus bayar lagi” ? tanya ku kesal
“iya kak, kalo berhenti disini emang bayar parkir kak”, jawab nya masih dengan nada ramah…
“iya, tapi tadi kakak udah bayar parkir, lagian kan Cuma sebentar”, aku mulai kesal..
Dengan muka masam dan pandangan kesal ku starter motor ku, tak ku pedulikan remaja tadi, ku tinggalkan tepi pantai ini, sepanjang jalan aku hanya mengomel, aku masih kesal dengan parkir- parkir tak jelas itu,,
Beberapa menit setelah aku meninggalkan pantai itu, ku dengar adzan maghrib berkumandang..
Aku mengalihkan pandangan ku dari keramaian jalan..
Mencari masjid untuk menunaikan kewajiban ku..
Setelah ku tunaikan kewajiban ku, aku bergegas melanjutkan perjalanan ku, ingin segera melepas lelah di kamar tercinta ku..
Ku starter motorku, sebelum ku lihat seorang anak menengadahkan tangan nya padaku
“parkir nya kak”, ucap anak itu
Kali ini aku enggan berkomentar, ku berikan selembar dua ribuan, dan segera berlalu meninggalkan halaman masjid itu.
Aku bergumam dalam hati, “parkir lagi, parkir lagi, dimana- mana kena ongkos parkir, bahkan meningggalkan motor di halaman masjid pun kena ongkos parkir. Tak masalah jika aku meninggalkan motor ku di basemen mall, di halaman restoran atau di pusat perbelanjaan.
Apa sebenar nya yang terjadi disini, apa setiap sudut kota ini memang di wajibkan untuk membayar parkir, bagaimana bisa tukang2 parkir gadungan itu bisa seenak nya meminta ongkos parkir,
Mungkin slogan kota ini “dimana kamu berhenti disitu kamu harus membayar parkir”.
Sepertinya kota ini cocok untuk di juluki “Kota Parkir”.
Aarrgghh,, aku semakin tak mengerti,, sepertinya parkir sudah membudaya di kota ini,, -_-

Ikhlas

Terkadang memaksa hati untuk melakukan apa yang tidak kita ingnkan itu emang menyakitkan. Tapi saat hidup tak memberikan kita pilihan, kita bahkan tak bisa berbuat apa2, hanya bisa menerima. Seperti saat kita harus memaksa hati untuk melupakan seseorang yang kita sayang. Tak mudah memang, atau seperti saat kita harus memaksa hati menyembunyikan rasa sayang kita pada seseorang.

Memaksa hati itu memang menyakitkan, terlebih saat kita harus memaksa hati untu menerima sebuah kegagalan. Semakin kita mencoba memaksa hati kita untuk menerima, semakin sakit rasa nya hati ini.

Seperti apa yang aku rasakan, berulang kali aku memaksa hati untuk menerima kegagalan ku hari ini. Tapi semakin ku paksa hati ku untuk menerima, semakin sakit rasanya, semakin sesak hati ku dengan kekecewaan, semakin mengecil harapan ku untuk bangkit. Aku terpuruk dalam kegagalan ku hari ini. Aku berpikir sejenak tentang kegagalanku hari ini, dimana kesalahan ku, dimana kekurangan ku, sampai aku tak berhasil. Aku yakin bahwa aku sudah melakukan yang terbaik dan aku yakin aku pasti berhasil. Tapi kenyataan tak semulus yang aku harapkan. Hasil yang kuterima justru mengecewakan.

“sudah lah ikhlas kan saja, legowo, ambil hikmah nya saja”, ucap salah seorang sahabat ku mencoba menenangkan ku. Aku terdiam sejenak, ku tatap luas nya langit, ku pandang hamparan sawah yang menghijau. Ada udara yang begitu sejuk yang seketika mengisi ruang di paru- paru ku. Aku terus berjalan, sementara sahabat ku hanya membiar kan ku berlalu sendiri. Hembusan demi hembusan nafas yang ku hirup dari udara segar ini perlahan menyadarkan ku. Betapa aku telah mengingkari nimat Nya, betapa aku telah tak bersyukur atas apa yang ku miliki dan yang ku dapatkan.

rumput-embun-pagi

 

 

 

 

 

 

 

Ku lihat rerumputan hijau di sekeliling ku, seolah mereka sedang berkata pada ku, “syukuri saja hidup mu, syukuri apa yang kamu dapatkan, ikhlaskan saja apa yang tak bisa kamu dapatkan, masih lebih banyak nikmat yang kamu rasakan di banding hanya satu kegagalan”.

“Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 17)

Ahhh… ternyata aku salah, salah telah memaksa hati untuk menerima kegagalan. Keindahan alam ini, hembusan nafas ini telah menyadarkan ku. Bahwa telah begitu banyak nikmat yang telah aku terima. Bahwa tak seharus nya aku terpuruk hanya karena satu kegagalan. Ikhlas, aku hanya perlu ikhlas, menerima tapi bukan dengan memaksa hati. Seperti rumput yang tak pernah mengeluh meski keberadaaan nya untuk di injak- injak. Seperti air yang tetap mengalir meski terhalang bebatuan.

Akhirnya aku memetik pelajaran dari kegagalan ku hari ini, bahwa aku harus tetap bersyukur apapun yang aku dapat. Dan aku harus belajar ikhlas atas apa yang tak bisa aaku dapatkan.

Semoga kegagalan ini menjadi pelajaran bagi ku, dan semoga keikhlasan ini menjadi penguat hati ku.

Salam Rindu untuk Ayah dan Ibu

Kota ini terlalu bising untuk ku menyendiri, jalanan pun terlalu sesak untuk ku merasa terasing. Bahkan saat malam telah separuh berlalu. Masih saja ada pejalan yang sibuk di tengah gulita, masih saja ada pekerja yang dengan gigih menantang lelah. Sementara aku, sibuk mencari sepetak ruang untuk menyandarkan hati. Ku mintakan sedikit tempat di peraduan bulan, ku mintakan satu bintang untuk menemami sepi ku.

tokyo

 

 

 

 

 

 

 

Malam ini, Hujan yang perlahan membasahi genting rumah ku pun bahkan tak mampu meleburkan sedikit kerinduan ku. Ingin ku berbisik pada awan, tapi ia terlalu kelabu malam ini. Mungkin awan menyimpan kerinduan akan cerah , lebih dari kerinduan ku. Tak ada kah yang bersedia menyampaikan salam rindu ku untuk ayah dan ibu ?? Bahkan angin yang sejak tadi berhembus didepanku pun acuh tak acuh. Ia terlalu sibuk menyebarkan oksigen pada penduduk bumi.

Aku merindukan mu, ayah, ibu

Aku rindu gelak tawa mu yang seketika mampu mencairkan kebekuan hati ku. Aku rindu belaian yang selalu membuat ku nyaman. Aku rindu mengisi hari- hari ku bersama mu, ayah, ibu. Aku rindu saat dulu aku tak perlu memikirkan apapun selain kebersamaan kita. Aku rindu saat dulu kita selalu punya waktu untuk bersama.

Aku merindukan mu ayah, ibu

Detik ini mungkin aku terlalu sibuk dengan mimpiku, mungkin aku terlalu berambisi atas semua harapan akan masa depan. Hingga tinggal sedikit saja waktu yang bisa ku bagi bersama mu. Ini salah siapa ? apakah ini salah ku ? jika pada akhirnya kita tak lagi bebas bersama.

Mungkin tak ada yang patut di persalahkan. Ini hanya masalah waktu. Ini adalah tentang perjuangan untuk masa yang akan datang. Aku hanya ingin menjadi putri kebanggaan mu. Hanya ingin membuat mu tersenyum melihat sukses ku.

Doa-ibu-bapa

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku merindukan mu ayah, ibu

Hingga tiba waktu nya nanti aku akan kembali. Saat aku telah menggenggam mimpi. Saat bukan lagi waktu yang mengendalikan hidup ku. Saat itu lah aku akan memeluk mu erat, melepas ikatan rindu yang telah menjadi simpul erat di hati ku. Insya Allah suatu saat nanti.

Salam rindu ku untuk mu, Ayah, Ibu