Meretas Lelah

tired1

 

 

 

 

 

 

Aku masih berkutat dengan tumpukan tumpukan resep obat ini, lagi. Setiap hari selalu begini. Apa aku tak bosan ? Apa aku tak lelah ?
Tentu saja aku bosan, tentu saja aku lelah..
Tempat ini membuat ku merasa seperti katak dalam tempurung, atau burung dalam sangkar.
Yah.. Ku pikir sama saja.

Bukan lagi hitungan hari, bukan lagi bulan, bahkan tahun sudah hampir menuju angka 4, dan aku masih disini. Apa aku terlalu nyaman disini, atau aku tak pnya pilihan untuk berada ditempat lain.

Terkadang, bongkahan lelah menjerat erat tubuh ku, menguras segala energi ku. Terkadang aku ingin berhenti, meninggalkan semua mimpi yang selama ini ku rajut. Tapi hati selalu menentang angan, aku tlah brjlan terlalu jauh untuk berhenti disini. Bahkan jika aku memutuskan berhenti dan kembali, aku hanya akan melebur seperti debu tersapu hujan.

Hampir setiap hari diseparuh malam, ku rebahkan jiwa ku pada dekapan bulan.
Meski kadang ia tak nampak, ku titipkan setitik perih pada hujan
agar ia menghanyutkan nya pada muara di tepi penantian.

Aku hanya mencoba meretas lelah
Karena hati ku tak mampu menjadi setegar karang
Aku hanya ingin meretas lelah
Karena perjalanan ini masih harus kulanjutkan

Jingga

pelangi-senja

 

 

 

 

 

 

 

Di ujung jalan ini
Cerita tak lagi tentang merpati
yang membawa pesan senja
Bukan lagi tentang sehelai dandelion di batas taman ilalang

Di ujung jalan ini
Hanya ada cerita tentang jingga
Yang terpisah dari sepenggal kisah cakrawala
terdampar pada hamparan rimba

Bahkan saat jingga mencoba kembali pada gugus pelangi
Ia tlah terlalu jauh tersesat di sebuah persimpangan

Tentang Rindu

1images

 

 

 

 

Hampa, hening
asaku terdampar di separuh malam
terperangkap sepi, terpasung pada dimensi waktu

aku tak bisa berkata tidak
pada rindu yang terlanjur meradang di rasaku
bagaimana bisa,
sekelumit bayang mu taburi rindu pada sepi ku

bagaimana bisa, rindu ini hanya untuk mu
bahkan saat senja tak lagi merona
rindu ini masih membiru
meski tak lagi ku kemas
bahkan rindu ini tetap untuk mu

Bukankah Kita Sahabat

Tak ada rembulan di langit malam ini
hanya segenggam tawa di ujung jalan
yang tak luput memekak sisa senyap

gurauan angin mengusik diam yang tak bergeming
menggelegak dalam secawan resahku
hati ku terpasung sepi
tercabik dingin meski di dekap bara

aku tertatih, melihat mu semakin samar
mengapa ada jarak yang menyekat
bukan kah kita sahabat ?
tidak kah hari ini ?

mengapa aku terasing
di sela tawa yang dulu kita nikmati bersama
mengapa rasa tak lagi sama
meski kita berada di tempat yang sama
bukan kah kita sahabat ?

Masih Memendam Rasa

blogger-image--2043657223

 

 

 

 

 

Masih kusimpan sepenggal rasa di ujung senja
untuk mu yang hanya mampu kulihat dibalik rona jingga
masih kupendam rindu ini
yang seolah tak pernah padam dilalap bara
hatiku masih enggan berpaling
bahkan saat lentera tak lagi menampakkan raut mu

bukan kah aku terlalu mencintaimu

melihatmu, terkadang begitu menyakitkan
berulang kali harus kusembunyikan semburat kecemburuan
aku ingin bicara, ingin ku ungkap rasaku
tapi tak pernah bisa

saat sekelebat angin berbaur pada temaram bulan
saat lampu jalanan tak lagi terang
aku masih disini
menintal resahku, samar menafsirkan haitmu

memendam rasa ini begitu menyakitkan
hingga denyutku tak lagi berirama
karena sepotong hatiku telah hanyut dalam muara asa mu

biar saja ku psimpan rindu ini
biar saja ku pendam rasa ini
bukan kah aku terlalu mencintaimu
karena menyerah pun aku bahkan tak mampu

Serpihan Rindu Buat Mu, Sahabat

sahabat

 

 

 

 

 

 

Aku tak mampu mengelak dari rasaku
saat ku sadar, ada bgian yang hilang dari diriku
Saat aku mulai merasa kehilangan mu,
Saat perlahan kau mulai menjauh

Aku merasa hilang
Benar- benar kehilangan
Sebab kita tak saling menyapa
Aku tak bisa kembali ke masa itu
Masa dimana kita menapaki jalan bersama
Menyemai kebersamaan di setiap petak waktu

Masih kah aku sahabat mu ?
Masih kah kita bisa bersama ?

Ku tuang kan serpihan rindu di hadapan mu,
Apa kau melihat nya ?
Apa kau merasakan nya ?

Aku merindukan mu
Rindu saat kita masih bisa bersama
bukan seperti hari ini
Saat tawa hanya tinggal sebongkah kediaman
Saat canda hanya menjadi kekakuan

Apakah aku bersalah pada mu,
Apakah aku menyakiti hati mu
Hingga kau bahkan enggan menyapa ku
Meski nyata kau melihat ku

Bicaralah pada ku
Jangan hanya diam dan berlalu
Bicaralah pada ku
Karena serpihan rindu ini semakin menyesak di rasa ku

Aku hanya ingin kita bersama seperti dulu lagi
Menikmati potret waktu bersama mu
Menuangkan setiap lengkingan rasa pada berlalu nya senja

Aku hanya ingin kita bersama seperti dulu lagi
dan sampai hari ini
Aku masih menyimpan serpihan rindu di setiap sudut hati ku
Menunggu mu bicara
Menunggu mu kembali pada kebersamaan masa itu

*dari ku yang merindukan mu, sahabat

Lelaki Berwajah Dingin

Siang itu, di antara kerumunan mahasiswa yang memulai hari pertama kuliah nya

Aku menemukan sosok mu,

Di antara lelaki- lelaki dengan gaya sok keren itu

Aku justru memperhatikan sosok mu

Sosok lelaki yang bahkan tak bisa dibilang keren

Sosok yang kata orang “selengekan”

Tentu saja dengan penampilan dan gaya rambut ala preman

Kau bahkan tak menghiraukan orang- orang di sekitar mu

Kau bahkan Tak terlihat tertarik sedikit pun untuk berbaur dengan mereka, pun dengan ku

 

Siang itu, aku bahkan memperhatikan mu

Melihat mu dalam- dalam dari kejauhan di antara bejibun mahasiswa itu

Bukan karena tiba- tiba aku tertarik padamu

Yang orang bilang, cinta pada pandangan pertama

Tentu saja tidak. Aku bahkan merasa aneh melihat orang seperti mu

Saat mereka mahasiswa baru sibuk mencari teman baru

Sibuk berkenalan sana sini

Tapi kau, dengan gaya mu yang terlihat dingin

Kau berjalan acuh tak acuh melewati barisan keributan di kampus itu

Seolah di kampus ini hanya ada diri mu

 

Meski awal nya ku pikir, mungkin kau adalah senior atau bahkan alumni kampus itu

Yang sengaja mengunjungi kampus di hari pertama kuliah

Atau sekedar ingin melihat mahasiswa baru

Karena saat aku melihat mu siang itu

Raut mu memang seperti seorang senior

Tapi aku salah, ternyata kau juga mahasiswa baru kampus itu, sama seperti mereka

 

Berawal dari pertemuan ku dengan mu di siang itu

Aku hanya ingin mengenal mu

Ingin berteman dengan mu seperti juga aku berteman dengan mereka

Meski ku pikir mungkin akan sulit berteman dengan orang seperti mu

Karena kau terlihat begitu dingin dengan sikap mu

 

Tapi ternyata tak seburuk yang aku kira

Ku pikir kau hanya tak mudah berbaur dengan tempat dan orang- orang baru

Sampai kau benar- benar mengenal mereka

 

Sampai hari ini, setelah aku diam- diam memperhatikan mu

Setelah aku mencoba mengerti sikap dingin mu itu

Setelah kita telah saling bicara

Aku sadar, Aku bahkan menyukai mu

Entah sebagai teman atau apa

Meski kini aku tak lagi menemukan mu

Tapi hari ini, aku merindukan mu

sosok lelaki berwajah dingin

yang ku temui siang itu