Ikhlas

Terkadang memaksa hati untuk melakukan apa yang tidak kita ingnkan itu emang menyakitkan. Tapi saat hidup tak memberikan kita pilihan, kita bahkan tak bisa berbuat apa2, hanya bisa menerima. Seperti saat kita harus memaksa hati untuk melupakan seseorang yang kita sayang. Tak mudah memang, atau seperti saat kita harus memaksa hati menyembunyikan rasa sayang kita pada seseorang.

Memaksa hati itu memang menyakitkan, terlebih saat kita harus memaksa hati untu menerima sebuah kegagalan. Semakin kita mencoba memaksa hati kita untuk menerima, semakin sakit rasa nya hati ini.

Seperti apa yang aku rasakan, berulang kali aku memaksa hati untuk menerima kegagalan ku hari ini. Tapi semakin ku paksa hati ku untuk menerima, semakin sakit rasanya, semakin sesak hati ku dengan kekecewaan, semakin mengecil harapan ku untuk bangkit. Aku terpuruk dalam kegagalan ku hari ini. Aku berpikir sejenak tentang kegagalanku hari ini, dimana kesalahan ku, dimana kekurangan ku, sampai aku tak berhasil. Aku yakin bahwa aku sudah melakukan yang terbaik dan aku yakin aku pasti berhasil. Tapi kenyataan tak semulus yang aku harapkan. Hasil yang kuterima justru mengecewakan.

“sudah lah ikhlas kan saja, legowo, ambil hikmah nya saja”, ucap salah seorang sahabat ku mencoba menenangkan ku. Aku terdiam sejenak, ku tatap luas nya langit, ku pandang hamparan sawah yang menghijau. Ada udara yang begitu sejuk yang seketika mengisi ruang di paru- paru ku. Aku terus berjalan, sementara sahabat ku hanya membiar kan ku berlalu sendiri. Hembusan demi hembusan nafas yang ku hirup dari udara segar ini perlahan menyadarkan ku. Betapa aku telah mengingkari nimat Nya, betapa aku telah tak bersyukur atas apa yang ku miliki dan yang ku dapatkan.

rumput-embun-pagi

 

 

 

 

 

 

 

Ku lihat rerumputan hijau di sekeliling ku, seolah mereka sedang berkata pada ku, “syukuri saja hidup mu, syukuri apa yang kamu dapatkan, ikhlaskan saja apa yang tak bisa kamu dapatkan, masih lebih banyak nikmat yang kamu rasakan di banding hanya satu kegagalan”.

“Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 17)

Ahhh… ternyata aku salah, salah telah memaksa hati untuk menerima kegagalan. Keindahan alam ini, hembusan nafas ini telah menyadarkan ku. Bahwa telah begitu banyak nikmat yang telah aku terima. Bahwa tak seharus nya aku terpuruk hanya karena satu kegagalan. Ikhlas, aku hanya perlu ikhlas, menerima tapi bukan dengan memaksa hati. Seperti rumput yang tak pernah mengeluh meski keberadaaan nya untuk di injak- injak. Seperti air yang tetap mengalir meski terhalang bebatuan.

Akhirnya aku memetik pelajaran dari kegagalan ku hari ini, bahwa aku harus tetap bersyukur apapun yang aku dapat. Dan aku harus belajar ikhlas atas apa yang tak bisa aaku dapatkan.

Semoga kegagalan ini menjadi pelajaran bagi ku, dan semoga keikhlasan ini menjadi penguat hati ku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s